DIGITAL DISRUPTION

DIGITAL DISRUPTION

Apakah kita semua menyadari bahwa sekarang dunia tengah mengalami disruption yang mengakibatkan cara berkomunikasi, beraktifitas dan berekonomi menjadi berubah. Disruption disini bermakna inovasi yang mengguncangkan pola kerja lama dengan kondisi stabil dan permainan aman yang memiliki resiko rendah. Disruption dipicu oleh beberapa faktor antara lain perkembangan di bidang IT, urbanisasi, megacities, cyberplaces, demokratisasi dalam segala bidang dan munculnya generasi C atau Gen-C. Hal ini mengakibatkan produk peradaban manusia berubah, interaksi dan komunitas baru bermunculan, perubahan cara berkomunikasi dan berbisnis serta jarak dan waktu yang dapat ditempuh
dengan pendekatan berbeda dan lebih efisien. Pertarungan dari zaman ke zaman berubah dari pertarungan antar bangsa ke pertarungan antar produk/ korporasi menjadi pertarungan antar business model. Pola pikir lama tidak dapat mengimbangi perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Di abad 21 ini, tantangan yang harus diperhatikan adalah volatility, uncertainity, complexity dan ambiguity karena digital disruption sudah dimulai. Perlu kita sadari bahwa sekarang bermunculan perusahan dengan teknologi maju yang dengan idenya melampaui cara pandang kita contohnya netflix yang termasuk movie  house terbesar bahkan tidak perlu media tayang bioskop, uber yang termasuk perusahan taxi terbesar tidak memerlukan kepemilikan kendaraan, facebook sebagai pemilik media  social terpopular tidak membuat kontennya sendiri dan Airbnb yang termasuk penyedia akomodasi terbesar bahkan tidak perlu kepemilikan real  estate.

Pengaruh digital disruption dapat kita rasakan pula pada bidang marketing, real sector, financial sector dan the selling process. Dengan adanya digital disruption marketing konvensional berkembang secara media yaitu dengan optimalisasi marketing melalui search engine optimization, search engine marketing, email marketing serta SMS marketing. Real sector dan financial  sector masih senantiasa berkembang, yang berubah hanya automatisasi sehingga berdampak pada pengurangan tenaga kerja, peningkatan skill tenaga kerja dan perkembangan financial teknologi dalam bentuk e.banking, e.commerce. Pada bidang selling process terdapat banyak perubahan yaitu beralihnya perdagangan konvensial menjadi online.

Untuk mengatasi tantangan yang ada harus diimbangi dengan sikap leadership yang didukung dengan vision, understanding, clarity dan agility. Perusahaan konvensional atau lazy company sangat memerlukan perubahan agar dapat mengatasi disruption yang telah terjadi. Lazy company memiliki ciri-ciri tidak melakukan perubahan dan inovasi, merasa nyaman dengan apa yang telah dimiliki, mendapatkan pemasukan tanpa berinvestasi dan bermain aman. Hal tersebut disebabkan pola pikir yang konvensional, inovasi yang kurang berkembang, sikap tidak sportif dan lain lain. Untuk memperbaiki hal tersebut yang harus perusahaan lakukan di era disruption adalah terbebas dari perangkap masa lalu dan memiliki pandangan jauh kedepan.

Terakhir bapak Frans Budi Pranata mengingatkan 12 hal yang harus diingat di zaman digital ekonomi yaitu :
1. The new economy is a knowledge economy (knowledge)
2. Everything become digital (digitalization)
3. Physical things can become virtual (virtualization)
4. The economy is molecular econoy (molecularization)
5. The new economy is networked economy (internetworking)
6. Disintermediation
7. Computing, communication and content (convergence)
8. In the new economy, the gap between consumers and producers is blurred (presumption)
9. Real time, just in time (immediacy)
10. Globalization
11. The new economy is an innovation-based economy (Innovation)
12. Unexpected social issues are beginning to arise (discordance)
 
-Baby Arabella Dayantha-
Member AMA Indonesia Chapter Malang
Owner PopArte

 

Silahkan tinggalkan komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan secara bebas. Yang bertanda bintang wajib diisi.